Assalamualaikum wr.wb.
Hadirin yang dimuliakan dan dirahmati Allah..
Marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT. Berkat izin dari-Nya kita semua masih bisa bernafas dan masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.
Shalawat serta salam, kita ucapkan untuk mencurahkannya kepada baginda Nabi besar Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Mendengar kata Ta’aruf , pastinya mayoritas manusia yang mendengar kata tersebut mengartikan sebagai proses menuju pernikahan. Karna Ta’aruf dianggap jalur suci untuk mewujudkan sebuah pernikahan karena dianggap sesuai dengan syariat islam.
Sesuai dengan firman Allah Ta’ala dalam Qur’an surah Al-Hujurat [49]: 13 yang artinya wahai sekalian manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikanmu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu saling mengenal.
Secara umum, ta’aruf ini dapat diartikan sebagai ‘kenalan’.
Berdasarkan sudut pandang dari saya Ta’aruf tidak harus dalam proses menuju pernikahan saja namun perkenalan dalam momen apapun bisa saja disebut sebagai Ta’aruf.
Sebagaimana yang diketahui kalau jodoh dan kematian itu hanya Allah lah yang tahu.
Tanpa kita sadari, bahwasannya kita memiliki 2 jodoh yang sedang menunggu..
Jodoh dalam artian pasangan hidup kita, serta takdir kematian yang akan menjemput kita.
Namun sudahkah kita mengenal atau berta’aruf dengan jodoh kita yang ke dua? Atau kita malah seringkali lebih memperhatikan kepentingan kita untuk jodoh yang per1?
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Bahwasannya semua dari kita sering kali merasakan resah, gelisah, gundah gulana, dan juga terlalu rakus denngan dunia atau sering merasa tidak cukup dengan rezeki Allah SWT. Yang masih jomblo, minta punya istri betulll??
Yang udah nikah minta punya anak, yang udah punya anak malah jadi sombong terhadap saudara nya yang belum memiliki momongan. Bukan begitu pak, bu?
Nah obat dari penyakit tersebut ialah dengan cara mengingat kematian atau berta’aruf dengan kematian.
Dimana kita? Sedang apa kita ? dalam kondisi apa kita? Apakah ditempat ibadah atau maksiat? Apakah sedang mengerjakan ketaatan atau sedang mengerjakan maksiat? Dengan kondisi bersyukur atau malah berpaling dari-Nya? apabila Allah telah menghadirkan ajal kepada kita lantas apa yang harus kita perbuat?
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Hal pertama yang harus kita sadari bahwasannya kematian itu pasti akan datang kepada siapapun yang hidup. Banyak Firman yang allah yang menjelaskan tentang kematian. Salah satunya termaktub daalam surat Ali Imron ayat ke-185, yang menyebutkan: “Setiap yang bernyawa pasti akan mati”
Pernyataan ini dilanjutkan dengan penjelasan mengenai kehidupan pasca kematian. Dimana semua perbuatan manusia di dunia akan dibalas pada hari kiamat. Pernyataan ini ditutup dengan pernyataan yang menyebutkan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan belaka yang memperdaya.
Seorang muslim juga memiliki kewajiban untuk mengingat kematian itu sendiri. Sebab, banyak manfaat yang bisa kita dapatkan. Misalnya, membuat seseorang takut melakukan kejahatan, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Karena kematian akan datang sewaktu-waktu tanpa permisi.
Abu Ali ad-Daqqaq Rahimahullah seorang ulama islam. Perkataan beliau dinukil oleh Imam Al-qurthubi dalam kitab beliau ( At-Tadzkirah Fii Ahwalil Mauta wa Umurul Akhiroh) berkata :
Yang artinya : “ Siapa yang banyak mengingat kematian dimuliakan dengan tiga perkara.”
Segera bertaubat
Hati yang lapang
Semangat beribadah
Terakhir yang ingin saya sampaikan pada kesempatan kali ini. Marilah kita sama sama mengingat bahwa tujuan akhir hidup kita di dunia ini adalah bagaimana kita bisa selamat setelah kita mati. Baik di alam barzah, ketika kita dibangkitkan, atau ketika kita diatas shirath. Itulah sebenarnya tujuan hidup kita. Yang jomblo, jangan dulu bersedih.. syukuri keadaan mu saat ini, dan lebih baik memperbaiki diri agar kelak yang datang memanglah yang terbaik. Yang belum punya momongan jangan bersedih, barangkali Allah masih memberikan kesempatan untuk kalian holiday berduaan.
Syukurilah apa yang kita terima. Seringkali kita lupa bahwa fungsi doa itu meminta bukan memaksa. Barangkali allah belum memberikan apa yang kita minta karna itulah yang memang sebaiknya kita terima. Karna sesuatu yang baik menurut kita belum tentu baik untuk kita di kemudian harinya. Karna hanya Allah lah yang mengetahui yang terbaik untuk umatnya kini, esok, ataupun nanti.
Dengan cara berta’aruf dengan kematian semoga kita bisa mensyukuri nikmat yang telah Allah beri, dan semoga kita bisa selamat di kehidupan setelah kita mati. Kita panjatkan doa kepada Allah agar dijauhkan dari kematian yang buruk dan diberikan kematian indah yang Allah Ridhoi. Aamiinnn aamiinnn ya rabbal alaamiinnn..
Sekian yang dapat saya sampaikan. Semua kebenaran berasal dari Allah, dan apabila terdapat kesalahan, itu berasal dari diri saya sendiri, dan saya mohon dibukakan pintu maaf yang sedalam dalam nya.
Wabillahi taufiq wal hidayah,
Wassaalamualaikum, warrahmatullahi wabarokaatuh..
Waw dalem geh
BalasHapusMasya allah renungan buat diri sendiri nih...hehe
BalasHapus