Bina Sahabat Pedalaman #45 Hari Untuk Selamanya

 Hari pertama masing masing dari kami diantar oleh kk Fabio dan adik adik membawakan barang bawaan kami ke rumah mama piara. Jadi, disini kita semua tinggal dengan mama piara (yg menjadi keluarga baru kita di Sawai) mulai dari makan, tempat tinggal, mandi, nyuci dll diperbolehkan. Maa Syaa Allah serasa ada keluarga sendiri di negeri org. Akhirnya kami pun beres-beres dan beristirahat sejenak.

Menjelang sore hari tiba, karena keesokan hari nya kami sudah mulai memasuki bulan suci Ramadhan jadi adik-adik dan ka salma mengajak kami untuk mandi air masin (berenang di laut), kami pun menerima dengan hangat tawaran tersebut. Yuk jawab kami..

Kebetulan aku dan rekan rekan perempuan agak terkendala dalam berenang (mungkin yg paling paling aku kali ya πŸ˜‚) sehingga kami berenang pun memakai ban pelampung yg besar Ehehe.. tapi ga apa apa kami dan mereka masih tetap happy kiyowo gimana gitu πŸ€­πŸ˜‚ karena desa perairan ini merupakan sebuah teluk, jadi perairan nya jernih dan tenang, kita aman untuk berenang ,saling melempar air, menyelam, maupun berkeliling dengan perahu dayung.

Panorama alam yang dimiliki Desa Sawai sungguh menakjubkan, lingkungan yang bersih dan bersatu padu sepakan tak ada jarak, langit biru bersanding dengan birunya laut.

Sebuah desa yang sangat sempurna untuk menenangkan diri sejenak dari kebisingan kota yang selalu memekakkan.

Setelah itu, menjelang matahari terbenam kami pun bergegas untuk kembali ke rumah mama piara masing-masing. 

Hari ke dua dst..

Kami datang ke Sawai ini tidak luput dengan membawa amanah dari Jakarta yaitu fokus kami dibidang Agama, Budaya, Pendidikan, dan juga Sosial. Selama 45 hari tersebut banyak sekali hal hal yg kami alami, baik suka maupun duka yang terjadi.. di pagi hari di awal bulan suci ramadhan kami melaksanakan upacara pembukaan terlebih dahulu, dihadiri oleh pejabat negeri Sawai beserta staff nya dan juga tokoh-tokoh penting masyarakat nya. Dengan izin Allah dan diiringi syahdu nya alam antara perpaduan gunung dan lautan acara tersebut pun berjalan lancar. Lalu setelah itu kami pun melanjutkan kegiatan kami. Mulai dari mengajar abahata (metode yg dibekali saat di Jakarta), tajwid, bahasa Arab, bahasa Inggris, IndonesiaKu, Literasi, bermain bersama, tadabbur alam, dan masih banyak lagi itu kami lakukan setiap hari selama 45 hari tsb.

Selama 45 hari ini kami merasakan hangat nya kebersamaan, kekompakan, kekeluargaan, baik dari Tim maupun masyarakat nya. Masyarakat disini masih melestarikan hal tsb dalam menerima pendatang baru. Mereka sangat menghargai kedatangan kami, meskipun logat berbicara mereka mungkin memang agak meninggi dari kami, tapi tidak menjadi masalah baik dari kami dan mereka sama sama bisa saling menyesuaikan dan juga melengkapi. Awal nya sempat kaget karena aku takut kalau ternyata perbuatan aku salah tapi setelah bicara lebih lama lagi ternyata tidak, mereka memang dari luar nampaknya kasar atau semacamnya tapi dari dalam diri mereka memiliki hati yg sangat baik. Mereka sangat welcome dengan org baru, menyambut dengan hangat program-program yg kami bawa selama 45 hari tsb, baik di Rumah Baca Kapata, di Sekolah, di TPQ dan di Rumah mama piara. 







Komentar