Bina Sahabat Pedalaman #Surga yang tersembunyi di dalam Negeri Koniari

 Desa sawai atau yang dahulu akrab dikenal dengan Koniari ini merupakan salah satu desa yang ada di kawasan Maluku, sebuah desa yang berada diatas laut indah serta dikelilingi bukit yang masih asri. Bukit yang ada di sekitar Desa Sawai bernama Bukit Bendera.

Ketika kami berjalan-jalan mengelilingi Desa Sawai, kami menemukan sebuah sungai yang seakan membelah desa. Sungai tersebut bernama Sungai Asinahu yang merupakan sumber mata air tawar yang berasal dari gunung Hatu putih untuk penduduk Desa Sawai.

Sungai tersebut sangat jernih, di sampingnya dilapisi keramik Sehingga terkesan seperti sebuah kolam pemandian yang memanjang. Sungai Asinahu menyimpan cerita sejarah tersendiri, dan keberadaanya dimanfaatkan warga sekitar untuk mandi, mencuci baju, mencuci piring bahkan kita bisa melihat anak-anak yang berenang dengan serunya.

Menurut cerita turun temurun yang saya dapatkan saat berbincang dengan sesepuh disana bahwasanya pedagang Arab yang datang ke Pulau Seram adalah orang pertama yang membangun desa ini. Hal tersebut dapat dilihat dari perkembangan budaya terkait adat timur tengah, seperti musik gambus, pakaian gamis, dan arsitektur bangunan.

Saat ini Desa Sawai menjadi bagian dari Taman Nasional Manusela bersama 5 dusun lainnya, yaitu Opin, Rumaolat, Olong dan Besi. Lokasinya berada di sekitar teluk sehingga perairannya jernih dan tenang. Desa ini berada di kawasan perairan dengan kedalaman sebatas kepala orang dewasa. Kita aman untuk berenang atau pun berkeliling menggunakan perahu dayung.

Anak anak disini berumur 2 tahun pun sudah sangat lihai sekali dalam berenang. 

Mayoritas penduduk Desa Sawai adalah nelayan yang menggantungkan hidupnya dengan mencari ikan. Biasanya mereka mencari ikan tidak hanya dengan cara memancing, namun juga menggunakan sebuah tradisi yang bernama Kalawai. Menurut seorang tmn saya dari da'i lokal desa tsb bahwasanya Kalawai ini merupakan cara menangkap ikan dengan menggunakan tombak khusus yang umumnya dilakukan pada malam hari. Selain nelayan, para penduduk Desa Sawai juga banyak yang berkebun di wilayah sekitar desa. Adapun hasil perkebunan mereka adalah Palawija dan buah-buahan. Membuat sagu juga merupakan profesi turun temurun masyarakat Sawai sejak zaman dulu.

Desa Sawai berada di kawasan Taman Nasional Manusela, Pulau Seram, yang dihuni oleh berbagai etnis suku namun menjadi sebuah satu kesatuan.

Rute menuju Desa Sawai memang tidak mudah, kami harus menggunakan berbagai macam moda transportasi umum apalagi Karna kami berasal dari luar Pulau Maluku.

Dimana sebelumnya kami harus menggunakan pesawat terbang dari Bandara Soekarno Hatta menuju Bandara Pattimura, Ambon. Kemudian dilanjutkan dengan naik kapal ferry dari Pelabuhan Tulehu menuju Pelabuhan Amahai di Pulau Seram.

Perjalanan laut yang kami tempuh kurang lebih selama 5 jam perjalanan. Setelah tiba di Pelabuhan Amahai dilanjutkan dengan perjalanan darat dengan estimasi waktu sekitar 3 jam perjalanan.

Jalan yang dilalui cukup berombak, kanan kiri jalan dihiasi pepohonan rindang yang cukup lebat. Setelah tiba di Saleman, yakni daratan terakhir sebelum menuju Desa Sawai, kami harus melanjutkan perjalanan dengan menggunakan perahu nelayan.

Perjalanan yang cukup menguras waktu dan tenaga tersebut terbayarkan dengan suasana Desa Sawai yang sangat indah dan menenangkan.

Desa Sawai. Sebuah desa yang masih menjunjung tinggi toleransi serta kecintaannya terhadap lingkungan.


Keramahtamahan penduduk dan keindahan di Desa Sawai membuat kami nyaman dan betah tinggal selama 45 hari disana.

Komentar